[ad_1]

Demonstrasi tersebut pecah pada akhir Desember karena meningkatnya biaya hidup sebelum menyebar ke seluruh negeri dan berkembang menjadi protes anti-pemerintah yang mencapai puncaknya pada tanggal 8 dan 9 Januari. File | Kredit Foto: AFP
Iran mengeksekusi dua pria pada Minggu (5 April 2026) yang dihukum karena bertindak atas nama Israel dan Amerika Serikat selama gelombang protes anti-pemerintah awal tahun ini, kata pengadilan.
“Mohammad-Amin Biglari dan Shahin Vahedparast… digantung setelah kasusnya ditinjau dan keputusan akhir dikonfirmasi oleh Mahkamah Agung,” kata situs pengadilan Mizan Online.
Update perang Iran-Israel 6 April 2026
Kedua pria tersebut terlibat dalam protes anti-pemerintah yang mencapai puncaknya pada bulan Januari, tambahnya.
Demonstrasi tersebut pecah pada akhir Desember karena meningkatnya biaya hidup sebelum menyebar ke seluruh negeri dan berkembang menjadi protes anti-pemerintah yang mencapai puncaknya pada tanggal 8 dan 9 Januari.
Pihak berwenang Iran mengatakan demonstrasi tersebut dimulai dengan damai sebelum berubah menjadi “kerusuhan yang dipicu oleh pihak asing” yang melibatkan pembunuhan dan vandalisme.
Iran telah melakukan banyak eksekusi dalam beberapa hari terakhir terhadap orang-orang yang terkait dengan protes atau kelompok oposisi, termasuk anggota Mujahidin Rakyat (MEK) yang dilarang.

Eksekusi ini dilakukan di tengah perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, yang meletus pada 28 Februari dengan serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi republik Islam tersebut, Ali Khamenei.
Pada Sabtu (4 April 2026), Iran mengeksekusi dua anggota MEK setelah empat terpidana anggota kelompok lainnya dihukum mati pada awal pekan.
Pada Kamis (2 April 2026), pihaknya juga mengeksekusi seorang pria yang dihukum karena bertindak atas nama Israel dan Amerika Serikat selama protes, menyusul eksekusi serupa terhadap tiga orang lainnya bulan lalu.
Teheran mengatakan lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan tersebut, termasuk anggota pasukan keamanan dan orang-orang yang berada di dekatnya, dan mengaitkan kekerasan tersebut dengan “aksi teroris”.
Namun Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan pihaknya mencatat lebih dari 7.000 kematian, sebagian besar dari mereka adalah pengunjuk rasa, dan menambahkan bahwa jumlah korban jiwa mungkin lebih tinggi.
Diterbitkan – 06 April 2026 02:55 WIB
