[ad_1]
AI membuat beberapa pekerjaan menjadi mubazir. Dan seiring dengan hal tersebut, sejumlah karyawan Tiongkok berharap hal tersebut juga berdampak pada pekerjaan yang dilakukan rekan kerja mereka. Sehingga pekerjaannya sendiri bisa tetap aman. Untuk memastikan bahwa ketika sebuah perusahaan memikirkan pemutusan hubungan kerja karena AI, mereka tampaknya sedang melatih sistem AI di perusahaannya agar dapat melakukan pekerjaan rekan kerja mereka. Aneh dan hampir seperti episode Black Mirror, tetapi tampaknya menjadi tren dan sekarang beberapa file pelatihan AI yang menjadi bagian dari tren tersebut menjadi viral di Github, platform yang berfokus pada pengembang.
Jika Anda mengikuti perbincangan yang berkembang seputar AI dan pekerjaan di media sosial, Anda mungkin pernah menemukan istilah “distilasi keterampilan”. Sederhananya, AI mengacu pada pengelompokan cara seseorang bekerja, proses, keputusan, dan metodenya, menjadi langkah-langkah yang jelas dan terstruktur yang dapat dipelajari dan ditiru oleh sistem AI. Intinya, ini tentang melatih AI untuk berperilaku lebih seperti manusia, yang pada akhirnya berpotensi mengambil alih peran mereka.
Di Tiongkok, penyulingan keterampilan semakin besar. Menurut laporan, banyak perusahaan meminta karyawannya untuk mendokumentasikan pekerjaan mereka secara rinci, mulai dari alur kerja dan pengambilan keputusan hingga komunikasi internal. Meskipun hal ini dibingkai sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi dan berbagi pengetahuan, data yang sama juga dapat digunakan untuk melatih sistem AI.
Namun, para karyawan mulai mengenali pola ini. Hasilnya? Beberapa orang kini menggunakan sistem AI untuk keuntungan mereka sendiri dan, dalam kasus tertentu, merugikan rekan kerja mereka.
Alat bernama “colleague.skill” sedang viral di GitHub. Teknologi ini memungkinkan pengguna menganalisis cara kerja karyawan dengan memetakan jejak digital mereka, termasuk obrolan, dokumen, dan email, lalu mengubah data tersebut menjadi agen AI yang meniru alur kerja mereka.
Menurut laporan, para pekerja di Tiongkok menggunakan “colleague.skill” untuk mencatat dengan tepat bagaimana rekan kerja mereka melakukan pekerjaannya. Mereka mengubah tugas sehari-hari rekan kerja mereka menjadi panduan digital sederhana yang dapat diikuti oleh AI sehingga peran tersebut lebih mudah untuk diotomatisasi. Tujuannya adalah untuk menggantikan rekan kerja dengan AI, sekaligus menjadikan diri mereka lebih berharga dan aman dalam peran mereka sendiri.
Serangan balik juga sedang terjadi
Menanggapi “colleague.skill”, seorang pengembang wanita di Tiongkok dilaporkan telah menciptakan alat tandingan yang disebut “anti-distillation.skill”. Dalam video viral, blogger tersebut menunjukkan bagaimana alat tersebut membantu karyawan melindungi keahlian mereka agar tidak dimanfaatkan oleh AI.
Alat ini pada dasarnya menulis ulang dokumen kerja standar karyawan sehingga tetap jelas dan profesional bagi pembaca manusia, sambil mengaburkan atau menghilangkan detail paling penting. Ini biasanya merupakan bagian yang diandalkan oleh sistem AI untuk mempelajari cara seseorang melakukan pekerjaannya.
Akibatnya, konten tampak lengkap di permukaan namun kurang berguna untuk melatih AI. Dalam beberapa kasus, alat ini menambahkan bahasa yang tidak jelas atau umum, sehingga mempersulit AI untuk memahami pola. Ini juga memungkinkan pengguna mengontrol seberapa banyak informasi yang ingin mereka sembunyikan, bergantung pada seberapa hati-hati mereka.
– Berakhir
