[ad_1]
OpenAI telah mengeluarkan salah satu peringatan terkuatnya mengenai masa depan kecerdasan buatan, dengan mengatakan bahwa dunia akan segera memasuki era di mana kinerja mesin bahkan lebih baik daripada manusia terpintar sekalipun, dan masyarakat belum sepenuhnya siap menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam makalah kebijakan baru dan pernyataan publik baru-baru ini, perusahaan tersebut menyerukan perubahan mendesak terhadap fungsi perekonomian, lapangan kerja, dan sistem pemerintahan, dengan alasan bahwa transisi ke “superintelligence” dapat terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.
Dokumen setebal 13 halaman yang berjudul “Kebijakan Industri untuk Era Intelijen” memaparkan serangkaian gagasan yang bertujuan untuk mempersiapkan pemerintah dan lembaga menghadapi perubahan ini. Hal ini menggambarkan masa depan di mana sistem AI tidak lagi sekadar alat untuk melakukan tugas tertentu, namun merupakan entitas yang mampu menangani pekerjaan kompleks yang saat ini memerlukan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan bagi manusia untuk menyelesaikannya.
Baru-baru ini, saat berbicara di AI Impact Summit, Sam Altman menyatakan bahwa transformasi ini mungkin terjadi lebih cepat dari perkiraan banyak orang. “Pada akhir tahun 2028, lebih banyak kapasitas intelektual dunia yang dapat berada di dalam pusat data dibandingkan di luar pusat data,” katanya, mengisyaratkan adanya perubahan dramatis dalam hal pengetahuan dan kekuatan pemecahan masalah.
Altman juga berbicara tentang bagaimana sistem seperti itu dapat mengubah peran kepemimpinan dan penelitian. “Sebuah superintelligence, pada titik tertentu dalam kurva perkembangannya, akan mampu melakukan pekerjaan yang lebih baik sebagai CEO sebuah perusahaan besar dibandingkan dengan eksekutif mana pun, atau tentu saja melakukan penelitian yang lebih baik daripada para ilmuwan terbaik kita,” katanya, menekankan janji dan ketidakpastian dari sistem ini.
Dari alat AI hingga kecerdasan super
Dokumen tersebut menjelaskan bagaimana AI telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Sistem yang dulunya menangani tugas-tugas yang sempit dan berulang kini dapat menyelesaikan pekerjaan yang lebih umum yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia selama berjam-jam. Jika langkah ini terus berlanjut, langkah berikutnya adalah sistem yang dapat mengungguli manusia dalam berbagai tugas intelektual, bahkan ketika manusia menggunakan AI sebagai bantuan.
OpenAI menggambarkan tahap ini sebagai “kecerdasan super,” di mana mesin melampaui kemampuan manusia dalam berbagai cara. Meskipun perusahaan mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti bagaimana transisi ini akan terjadi, perusahaan percaya bahwa persiapan harus dimulai sekarang, bukan setelah gangguan sudah terjadi.
Pada saat yang sama, makalah ini menyoroti potensi kenaikannya. Penelitian ini membandingkan superintelligence dengan terobosan masa lalu seperti listrik dan mesin industri, yang menunjukkan bahwa superintelligence dapat mempercepat penemuan ilmiah, mengurangi harga barang-barang penting, dan membuka bentuk pekerjaan dan kreativitas baru.
Mengapa sistem yang ada saat ini mungkin tidak cukup
Terlepas dari manfaatnya, OpenAI memperingatkan bahwa kebijakan yang ada mungkin tidak mampu menangani skala perubahan. Laporan tersebut mencatat bahwa revolusi teknologi sebelumnya juga menyebabkan gangguan, namun AI dapat bergerak lebih cepat dan berdampak pada lebih banyak sektor sekaligus.
Beberapa kekhawatiran utama yang ada mencakup gangguan lapangan kerja dalam skala besar, konsentrasi kekayaan di beberapa perusahaan, penyalahgunaan sistem AI yang kuat, dan ketidakmampuan peraturan yang ada untuk mengimbanginya. Dokumen tersebut dengan jelas menyatakan bahwa perubahan kebijakan kecil tidak akan cukup untuk mengatasi tantangan-tantangan ini.
Sebaliknya, hal ini memerlukan pemikiran ulang menyeluruh mengenai struktur ekonomi, termasuk bagaimana masyarakat dibayar, bagaimana pekerjaan diatur, dan bagaimana pemerintah memungut pajak.
OpenAI berupaya memikirkan kembali pekerjaan, pajak, dan jam kerja
Salah satu saran yang paling mencolok dalam laporan ini adalah kemungkinan pengurangan jam kerja dalam seminggu. Ketika AI meningkatkan produktivitas, perusahaan mungkin dapat mempertahankan output sekaligus mengurangi jam kerja, dengan ide-ide seperti program percontohan 32 jam kerja dalam seminggu sedang dieksplorasi.
Dokumen tersebut juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan perpajakan. Ketika pola pendapatan berubah akibat otomatisasi, pemerintah mungkin perlu lebih mengandalkan pajak modal dibandingkan tenaga kerja. Perjanjian ini juga menyebutkan kemungkinan pajak yang terkait langsung dengan otomatisasi, serta insentif bagi perusahaan untuk mempertahankan dan melatih kembali pekerja dibandingkan mengganti mereka.
Proposal lainnya adalah pembentukan “Dana Kesejahteraan Publik,” yang memungkinkan masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh AI, dibandingkan memusatkan keuntungan pada beberapa organisasi saja.
Tema utama dalam makalah ini adalah gagasan untuk menjadikan manusia sebagai pusat transisi AI. OpenAI mengusulkan sesuatu yang disebut “Hak atas AI,” yang memperlakukan akses terhadap alat AI sebagai kebutuhan dasar, mirip dengan listrik atau internet. Hal ini mencakup keterjangkauan, infrastruktur, dan pelatihan sehingga lebih banyak orang dapat memperoleh manfaat dari teknologi ini.
Pada saat yang sama, perusahaan menekankan perlunya mengelola risiko secara hati-hati. Laporan ini menguraikan kekhawatiran seputar ancaman keamanan siber, penyalahgunaan biologis, dan perilaku sistem yang tidak sejalan dengan niat manusia.
Untuk mengatasi hal ini, laporan ini mengusulkan kerangka keselamatan yang lebih kuat, termasuk pemantauan berkelanjutan, audit independen terhadap sistem berisiko tinggi, dan alat untuk memverifikasi konten yang dihasilkan AI. Hal ini juga menyarankan pembuatan strategi “model-containment” untuk situasi di mana sistem berperilaku tidak dapat diprediksi.
OpenAI ingin transisi menuju superintelligence tidak diputuskan oleh sekelompok kecil perusahaan atau pemerintah saja. Dokumen tersebut menyerukan pendekatan yang lebih demokratis, di mana masukan dan transparansi publik memainkan peran yang lebih besar dalam membentuk bagaimana AI dikembangkan dan digunakan.
Hal ini juga menunjukkan perlunya kerja sama internasional, dengan alasan bahwa standar global dan kerangka kerja bersama akan sangat penting untuk mengelola risiko secara efektif.
– Berakhir
