[ad_1]
Perjalanan dari kantor pusat distrik Behrampore ke Suti lebih dari sekedar perjalanan sejauh 80 kilometer; ini adalah transisi ke dimensi demografi dan politik yang berbeda. Meninggalkan perkotaan yang luas pada pukul 9 pagi, lanskap berubah saat seseorang mendekati perbatasan Indo-Bangladesh. Saat saya tiba di Sajurmore sekitar pukul 11.30 dan keluar dari jalan raya nasional, penanda “Benggala Perkotaan” yang sudah dikenal telah lenyap, digantikan oleh struktur sosio-politik pedesaan Murshidabad yang padat dan kompleks.
Tujuan saya adalah Debipur, sebuah desa yang terletak di blok Suti, sebuah wilayah yang sering dirusak oleh berita utama kerusuhan dan kekerasan politik. Namun Debipur mempunyai reputasi yang paradoks: desa ini secara luas dianggap sebagai desa paling berpendidikan di wilayah tersebut. Saya datang ke sini untuk mengukur realitas dasar SIR dan dampaknya terhadap masyarakat yang merasa semakin terkepung oleh birokrasi.
Di Sekolah Dasar GD, kontak lokal saya tidak hadir. Di wilayah pedesaan Bengal yang sensitif dan didominasi minoritas, lensa kamera sering kali dipandang dengan kecurigaan yang beralasan. Namun, keheningan itu terpecahkan bukan karena rasa permusuhan, melainkan karena adanya kebutuhan yang mendalam untuk didengarkan.
Rezaul Karim, seorang warga lanjut usia, menjadi suara krisis lokal. Kesaksiannya menyoroti sifat proses SIR yang tidak menentu dan hampir aneh. “Keluargaku sudah tinggal di sini selama lima generasi,” kata Karim, suaranya bergetar karena campuran kelelahan dan kemarahan. “Nama saya telah dihapus, tetapi putra saya, seorang profesor, dan putri saya, seorang dokter, masih utuh. Keadilan macam apa ini?”
Pertanyaan Karim menyentuh inti kegagalan politik di kawasan. Ia bertanya dengan tajam, “Di manakah TMC, BJP, dan Komisi Eropa?” Hal ini mencerminkan rasa ditinggalkan, dimana partai berkuasa dan oposisi dipandang telah membiarkan masyarakat berada pada sistem yang kaku dan berbasis algoritma.
ASPIRASI BARU
Wacana politik di Murshidabad telah lama dibingkai melalui kacamata polarisasi komunal. Namun, percakapan dengan Munu, seorang lulusan, dan saudaranya Zahid, seorang pengacara di pengadilan Jangipur, mengungkap narasi berbeda. Bagi kaum muda, “politik identitas” di masa lalu telah kehilangan daya tariknya.
“Polarisasi mempunyai sejarah yang panjang di sini,” kata Munu, “tetapi tidak ada partai yang berbicara mengenai lapangan kerja dan pendidikan.” Rasa frustrasinya terlihat jelas. Kesalahan SIR, dimana satu saudara “sah” dan yang lain “dikecualikan”, telah memperdalam kekecewaan terhadap sistem.
Mungkin pertemuan yang paling mencolok adalah dengan Abdul Bari, seorang personel BSF yang saat ini bertugas di Odisha. Seorang pria yang menjaga Garis Kontrol di Kashmir kini mendapati statusnya dipertanyakan di dalam negeri. Berbicara melalui telepon, dia berkata, “Saya telah mengabdi pada negara selama 16 tahun. Apa kesalahan saya? Seseorang harus bertanggung jawab.”
MASJID SEBAGAI TEMPAT PERLINDUNGAN AKSI SEKULER
Pergeseran paling signifikan dalam lanskap politik Suti adalah gerakan menuju kemandirian. Di sebuah masjid setempat, saya bertemu Ajijur Rehman, seorang pemuda yang menentang gambaran stereotip tentang ruang keagamaan pedesaan yang terpencil.
Mengundangku masuk – sebuah isyarat yang menjembatani keraguanku – Ajijur membawaku ke teras. Di sana, para pemuda terpelajar telah membentuk meja fasilitasi untuk membantu penduduk desa mengajukan banding ke Pengadilan.
PENGAMBILAN SAYA
- De-politisasi Bantuan: Layanan bantuan di masjid melayani semua orang, apa pun keyakinannya. “Kami adalah orang India yang pertama,” kata Ajijur, menandakan adanya pergeseran di luar batas komunal.
- Menurunnya Bank Suara yang “Aman”: Strategi tradisional untuk merayu pemilih minoritas melalui bantuan atau rasa takut tampaknya sudah kehilangan relevansinya.
- Permintaan Bahan: Dari tentara hingga pengacara, permintaannya tetap sama – pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan.
PENJAGA YANG BERUBAH
Ketika saya meninggalkan Debipur, saat matahari terbenam di wilayah perbatasan, realitas politik Murshidabad terasa jauh lebih berlapis dibandingkan retorika yang terdengar di Kolkata atau Delhi. SIR, mungkin secara tidak sengaja, telah memicu bentuk baru kesadaran sipil.
Masyarakat Suti tak lagi puas menjadi “blok statistik” dalam manifesto partai. Ada kesadaran yang semakin besar bahwa keuntungan politik jangka pendek, yang seringkali ditengahi selama siklus pemilu, menyebabkan kerugian sistemik dalam jangka panjang. Jika kelompok politik terus mengabaikan dampak SIR di tingkat lapangan dan keprihatinan utama generasi muda, maka mereka mungkin akan menyadari bahwa konstituen yang diklaim mereka wakili telah diam-diam bergerak.
– Berakhir
