[ad_1]
Saat saya melakukan perjalanan melalui Assam, melaporkan dari berbagai bagian negara bagian, Kaziranga terjatuh dalam perjalanan saya dari Guwahati ke Dibrugarh. Berdiri di depan pintu masuk Taman Nasional Kaziranga yang megah, satu hal menjadi jelas: Kaziranga tidak lagi dilihat sekadar sebagai taman nasional atau tujuan wisata. Ini semakin menjadi simbol identitas, politik, dan pemerintahan Assam.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintahan BJP telah menempatkan Kaziranga sebagai pusat pencapaiannya. Klaim terbesarnya adalah penurunan tajam perburuan badak, yang digambarkan sebagai keberhasilan tata kelola, kerangka hukum dan ketertiban yang ketat, dan kebijakan konservasi.
Namun pada musim pemilu, pertanyaannya tidak berakhir di situ. Apakah segalanya di Kaziranga benar-benar berubah? Jika hutan menjadi lebih aman, apakah kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan juga menjadi lebih mudah? Bisakah konservasi dan pembangunan berjalan beriringan?
DARI GUWAHATI KE KAZIRANGA: Perhentian Penting dalam Jalur Pemilu
Perjalanan hampir empat jam dari Guwahati ke Kaziranga tidak hanya membawa kisah tentang hutan, namun juga denyut pemilu.
Di sepanjang jalan raya, poster, spanduk, bendera partai, dan percakapan sehari-hari memperjelas satu hal: pemilu di sini bukan hanya soal kandidat, tapi soal isu. Di beberapa tempat, diskusi berpusat pada pembangunan; di tempat lain, tentang banjir. Di beberapa sudut, orang berbicara tentang satwa liar; di sisi lain, mata pencaharian dan pekerjaan.

Di Kaziranga, perdebatan tidak terbatas pada jalan, listrik dan air, seperti yang sering terjadi di daerah perkotaan. Di sini, pertanyaan utamanya menjadi lebih kompleks: jika hutan bertahan, bagaimana kehidupan akan berlanjut? Dan jika kehidupan terus berlanjut, berapa banyak lagi hutan yang tersisa?
KAZIRANGA SAAT FAJAR: KETIKA HUTAN BANGUN SEBELUM POLITIK
Untuk benar-benar merasakan Kaziranga — mendengar detak jantungnya — Anda harus tiba saat fajar.
Sekitar pukul 05.30, saya sampai di gerbang taman. Dinginnya udara, kabut, dan kelembapan memperjelas satu hal: di sini, hari dimulai dengan hutan, jauh sebelum dimulai dengan manusia.

“Pak, cepatlah safari gajah akan segera dimulai,” desak seorang staf.
Bagi saya, yang terjadi selanjutnya mengubah Kaziranga dari sebuah cerita menjadi lanskap politik dan sosial yang hidup.
DILIHAT DARI PUNGGUNG GAJAH: REALITAS HIDUP KAZIRANGA
Untuk safari gajah, pengunjung menaiki platform kayu dan besi yang tinggi sebelum duduk di punggung gajah. Saat hewan itu mengambil langkah pertamanya, saya merasakan sedikit kegugupan. Akankah perjalanan ini semudah kelihatannya?
Dalam beberapa menit, ritme gajah yang lambat dan mantap memperlihatkan sisi hutan yang tidak dapat ditangkap oleh perjalanan darat apa pun — rerumputan tinggi, semak lebat, bau tanah basah, dan kicau burung bergema di kejauhan.

Lalu, tiba-tiba, kami melihat mereka — tiga ekor badak, tenang dan tidak diganggu. Bukan bagian dari poster pariwisata, tidak tampil di depan kamera — cukup di rumah, dengan kita sebagai pengunjung.
Pada saat itu, satu hal menjadi jelas: badak di sini bukan hanya satwa liar; itu adalah bagian dari politik Assam. Penurunan perburuan badak telah menjadi salah satu pencapaian paling menonjol dari pemerintahan BJP, yang disorot dalam demonstrasi dan pesan resmi.
Masyarakat di lapangan mengakui perubahan ini. Namun ceritanya tidak berakhir di situ.
MAHOUT DAN 'Wisnu': KEBENARAN LAIN DARI HUTAN
“Siapa nama gajah ini?” tanyaku pada mahout.
“Namanya Wisnu,” jawabnya sambil tersenyum.
Dia memberitahuku bahwa mereka telah bersama hampir sejak kecil. Wisnu memahami perintahnya, berjalan bersamanya, makan bersamanya dan tumbuh bersamanya.
Pada saat itu, menjadi jelas bahwa Kaziranga bukan sekedar keberhasilan kebijakan atau arsip konservasi. Ini juga tentang hubungan yang dijalani antara manusia dan hewan — hubungan yang membentuk kisah nyata tempat ini.
Namun pada musim pemilu, hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: apakah pemerintah hanya melindungi hewan, atau juga masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan?
DARI SAFARI GAJAH KE SAFARI JEEP: MENDEKAT KE KONFLIK
Saat safari berakhir, wisatawan kembali tersenyum. Mereka yang menunggu untuk masuk tampak bersemangat. Namun bagi saya, pengalaman tersebut telah berubah – dari tontonan menjadi penyelidikan.
Setelah berhenti sejenak di hotel, kami berangkat lagi, kali ini dengan safari jeep.

Seekor gajah membawa Anda lebih dekat ke hutan. Sebuah jip membawa Anda lebih jauh — ke dalam hutan dan konflik di dalamnya.
Di gerbang masuk, pemeriksaan ketat dilakukan. Pengunjung ditanyai tentang makanan, minuman, dan minuman keras – sebuah pengingat bahwa pariwisata di sini diatur dengan ketat, sesuatu yang sering disebut oleh pemerintah sebagai model kesuksesan.
DANAU MIHI: KECANTIKAN DAN PERTANYAAN
Lebih dalam lagi, kami mencapai Danau Mihi. Kawanan rusa rawa beristirahat di dekatnya, sementara badak merumput di kejauhan.
Melalui teropong, saya menyaksikan kejadian itu terjadi – salah satu momen langka ketika kata-kata tidak dapat diucapkan.
Namun pertanyaannya kembali: jika badak lebih aman, apakah seluruh ekosistem juga sama amannya?
TANTANGAN TERBESAR: BUKAN HARIMAU, TAPI BANJIR
Sopir kami, Vinod, yang telah bekerja di Kaziranga selama 15 tahun, menjawab dengan jelas ketika ditanya tentang tantangan terbesarnya.
“Pak, masalah terbesarnya adalah banjir,” ujarnya.
Ketika air naik, hewan-hewan terpaksa keluar dari taman, seringkali berpindah ke jalan raya dan pemukiman manusia. Banjir di sini bukan sekadar bencana alam; mereka membentuk konflik manusia-satwa liar, keselamatan jalan raya, mata pencaharian dan tata kelola.
Di sinilah politik elektoral kembali berperan.
Pemerintah menunjuk pada dataran tinggi, sistem anti-perburuan liar, dan infrastruktur konservasi sebagai pencapaian utama. Namun penduduk setempat terus bertanya: apakah masalah banjir sudah benar-benar membaik?
PUJIAN, TAPI BUKAN TANPA RESERVASI
“Tidak ada keraguan bahwa banyak hal telah berubah setelah BJP berkuasa,” kata Vinod – sebuah sentimen yang dianut oleh banyak orang, terutama mengenai perburuan liar.
Kehadiran keamanan, pengawasan dan penegakan hukum tampak lebih kuat.
Namun dia menambahkan, “Jalan-jalan di dalamnya harus lebih ditingkatkan.”
Ini mencerminkan suasana hati yang lebih luas: penghargaan tanpa kepuasan penuh. Para pemilih di sini tidak sepenuhnya marah atau sepenuhnya yakin.
AIR BANJIR DAN KERAPUAN
Sedikit ke depan, kami harus memutar balik — jalanan terendam setelah hujan baru-baru ini.
Segera setelah itu, kami melihat sekeluarga gajah – dua gajah dewasa dan seekor anak gajah – berdiri dengan tenang di bawah pepohonan.
Itu adalah pemandangan yang indah. Namun hal ini membawa kenyataan yang tidak menyenangkan: ketika banjir meningkat, hewan-hewan tersebut berpindah lebih dekat ke pemukiman manusia.
DI LUAR HUTAN: MATA PENCAHARIAN DIPERTARUHKAN
Di luar taman, Kaziranga berubah menjadi sumber penghidupan.
Di sepanjang jalan raya, kami berhenti di sebuah toko yang menjual ukiran kayu berbentuk badak, gajah, dan burung. Di dalam, para perajin bekerja dengan pahat dan palu, membentuk hutan menjadi kerajinan.

Kiran, salah satu pengrajin, mengatakan pembuatan badak kayu kecil membutuhkan waktu sekitar setengah jam; potongan yang lebih besar bisa memakan waktu hingga dua jam.
Ini bukan sekedar keahlian – ini adalah perekonomian yang dibangun di sekitar hutan.
PENAMPILAN PENJAGA TOKO: SUASANA PEMILU YANG NYATA
Krishna, pemilik toko, memberikan pandangan yang jujur.
“Bisnis bagus selama musim turis,” katanya.
Mengenai politik, ia berterus terang: “Saya tidak melihat perbedaan besar antara pemerintahan Kongres dan BJP. Masalah banjir masih tetap ada.”
Kemudian dia menambahkan, “Ya, perburuan badak telah berkurang secara signifikan setelah BJP berkuasa.”
Kata-katanya menunjukkan keseimbangan: pengakuan atas kemajuan, namun batasan yang jelas terhadap pujian tersebut.
Ia menambahkan kenyataan lain: “Sering kali, empat atau lima gajah lewat tepat di depan rumah kami dan saat banjir, bahkan badak pun keluar.”
Bagi warga, hutan bukanlah hal yang jauh. Ia tiba di depan pintu rumah mereka — terkadang sebagai keindahan, terkadang sebagai bahaya.
KAZIRANGA: PRESTASI DAN UJIAN
Saat ini, Kaziranga berada di persimpangan berbagai narasi. Ini adalah kisah sukses konservasi bagi pemerintahan BJP, namun juga merupakan lanskap yang dibentuk oleh banjir, pengungsian, dan ketegangan ekologi.
Para pemerhati lingkungan telah menyuarakan keprihatinan mengenai usulan infrastruktur, termasuk koridor layang. Peringatan mereka jelas: mengganggu koridor satwa liar dapat mengganggu keseimbangan ekologi di wilayah tersebut.

Jadi perdebatannya semakin tajam:
Di satu sisi: Kami membuat Kaziranga lebih aman.
Di sisi lain: Apakah pembangunan menimbulkan risiko baru bagi Kaziranga?
MASALAH PEMILU
Perjalanan melewati Kaziranga ini bukan sekedar perjalanan ke alam liar. Hal ini merupakan upaya untuk memahami tempat di mana badak telah menjadi bahasa pemilih, di mana banjir bersifat musiman dan bersifat politis, dan di mana konservasi dirayakan bahkan ketika perjuangan lokal masih berlangsung.
Di satu sisi adalah wisatawan yang datang dari seluruh dunia.
Di sisi lain, ada warga yang menghadapi banjir, pergerakan satwa liar, dan mata pencaharian yang tidak menentu.
Di musim pemilu kali ini, Kaziranga bukan sekadar kebanggaan Assam.
Ini adalah pertanyaan:
Bisakah pembangunan, konservasi, dan kehidupan manusia benar-benar maju bersama?
– Berakhir
[ad_2]
Suara Kaziranga: Bagaimana badak, banjir, dan kelangsungan hidup membentuk kisah pemilu
